KONSENTRAT UNTUK PAKAN TERNAK
Senin, 23 Maret 2015
Edit
Konsentrat
adalah suatu bahan pakan yang dipergunakan bersama bahan pakan lain untuk
meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan makanan dan dimaksudkan untuk
disatukan dan dicampur sebagai pakan pelengkap (Hartadi et al., 1991).
Konsentrat atau pakan penguat dapat disusun dari biji-bijian dan limbah hasil
proses industri bahan pangan seperti jagung giling, tepung kedelai, menir,
dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes dan umbi. Peranan konsentrat adalah untuk
meningkatkan nilai nutrien yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan
untuk tumbuh dan berkembang secara sehat (Akoso, 1996). Penambahan konsentrat
dalam ransum ternak merupakan suatu usaha untuk mencukupi kebutuhan zat-zat makanan,
sehingga akan diperoleh produksi yang
tinggi. Selain itu dengan penggunaan
konsentrat dapat meningkatkan daya cerna bahan kering ransum, pertambahan bobot
badan serta efisien dalam penggunaan ransum (Holcomb et. al., 1984).
Menurut
Koddang (2008) bahwa tingkat pemberian konsentrat berpengaruh sangat nyata
terhadap daya cerna bahan kering ransum pada sapi bali jantan yang mendapatkan
rumput Raja (Pennisetum purpurephoides) secara ad libitum.
Semakin tinggi tingkat pemberian konsentrat disertai dengan meningkatnya daya
cerna ( BK ) ransum. Menurut Parakkasi (1995) tingkat konsumsi dapat disamakan
dengan palatabilitas atau menggambarkan palatabilitas. Dijelaskan lebih lanjut
oleh Kartadisastra (1997) bahwa keadaan fisik dan kimiawi pakan yang dicerminkan
kenampakan, bau, rasa, dan tekstur menunjukkan daya tarik dan merangsang ternak
untuk mengkonsumsinya. Penambahan pakan konsentrat pada ransum secara ekonomi
dinilai sangat tidak efisien karena besarnya porsi biaya konsentrat antara
70-90% dari total biaya pakan. Makin besar biaya konsentrat maka pendapatan
peternak terkuras dan sebaliknya bila biaya pakan konsentrat dapat ditekan maka
pendapatan peternak dapat ditingkatkan
![]() |
Konsentrat Bentuk Pelet |
Perlu
diingat bahwa pemberian pakan konsentrat yang berkualitas tinggi akan mempercepat
pertumbuhan ternak, sehingga berat badan yang diharapkan dapat tercapai dalam
waktu yang singkat. Namun, pemberian pakan konsentrat dalam jumlah yang besar
mungkin kurang baik karena dapat menyebabkan pH dalam rumen menurun. Hal ini
disebabkan karena pemberian konsentrat akan menekan kerja buffer dalam rumen
karena mastikasi berkurang akibatnya produksi saliva menurun dan meningkatkan
produksi volatile fatty acid /VFA (Arora, 1995). Penurunan pH
tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas mikroba dalam rumen, yang
berperan dalam proses pencernaan pakan dan selanjutnya akan mengakibatkan
kecernaan pakan serta produktivitas ternak menurun. Derajat keasaman (pH) rumen
yang normal berkisar antara 6,0-7,0. Pada kisaran pH ini, pertumbuhan mikroba
rumen maksimal sehingga aktivitas fisiologisnya meningkat, terutama yang
berhubungan dengan fermentasi rumen (Putra dan Puger, 1995)
Konsentrat
dibedakan dua kelompok, yaitu konsentrat sumber enegi (carbonaseous
concentrate) dan konsentrat sumber protein (proteinaseous concentrate).
Carbonaseous concentrate merupakan konsentrat yang mengandung energi
tinggi, protein rendah dengan protein kasar kurang dari 20 persen dan serat
kasar 18 persen, sedangkan proteinaseous concentrate adalah
konsentrat yang mengandung protein tinggi dengan protein kasar lebih dari 2
persen (Prawirokusumo, 1994).
A. KONSENTRAT SUMBER PROTEIN
Semua macam
bahan pakan yang mengandung protein kasar >20%. Penggunaan konsentrat
protein terutama ditujukan untuk ternak muda, ternak tumbuh cepat dan ternak
produksi tinggi. Berdasarkan sumbernya, bahan konsentrat protein berasal dari:
1. Limah dari ikan laut
2. hewan darat
3. tanaman
4. asam amino sintetik
Konsentrat protein
dapat dibuat dengan cara menghilangkan komponen nonprotein seperti lemak,
karbohidrat, mineral, dan air, sehingga kandungan protein produk menjadi lebih
tinggi dibandingkan bahan baku aslinya (Amoo et al. 2006). Penghilangan
komponen nonprotein pada pembuatan konsentrat protein dapat dilakukan dengan
proses ekstraksi. Ekstraksi dapat dilakukan dengan menggunakan larutan alkohol
atau larutan asam. Pelarut alkohol yaitu aseton merupakan pelarut organik yang
bersifat polar yang memiliki kemampuan untuk memisahkan fraksi gula larut air
dan lemak tanpa melarutkan proteinnya. (Amoo et al. 2006).
B. KONSENTRAT SUMBER ENERGI
Semua macam
bahan pakan yang merupakan sumber energi dan memenuhi syarat tertentu (serat
kasar < 18%, dinding sel <35% dan protein < 20%). Kegunaannya
konsentrat sumber energi yaitu untuk menaikkan jumlah konsumsi energi atau
untuk menaikkan densitas energi di dalam
ransum. Energi yang terkandung di dalam konsentrat energi terutama berasal dari
karbohidrat yang mudah larut ataupun minyak dan lemak Bahan pakan yang tinggi
kandungan energinya (DE, ME atau NE) pada umumnya mengandung
protein rendah sampai sedang, walaupun ada beberapa macam yang mengandung
protein tinggi. Ternak lebih mudah mendapat energi dari konsentrat energi
daripada yang berasal forase walaupun energi bruto atau gross energy (GE)
hampir sama.
Bahan
Konsentrat Energi meliputi:
1. Berbagai macam bahan
pakan butiran sebangsa padi termasuk hasil sampingnya.
2. Berbagai macam umbi
3. Berbagai macam tetes dan
yang sejenis
4. Berbagai macam minyak
dan lemak
Pollard (Triticum
aestivum) merupakan bahan pakan konsentrat untuk sapi perah yang banyak
digunakan oleh peternak sebagai sumber energi dan protein. Selain itu menurut
Arditya (2010), dalam 100% BK nilai gizi yang terdapat dalam pollard adalah
8,81% serat kasar, 5,1% lemak kasar, 45,0% bahan ekstrak tanpa nitrogen dan
24,1% abu.
Sumber:
Akoso, B., T. 1996. Kesehatan Sapi.
Kanisius, Yogyakarta
Amoo IA, OT Adebayo, AO Oyeleye.2006.
Chemical Evaluation of Winged Beans (Psophocarous tetragonolabus), Pitanga
Cherries (Eugenia uniflora) and Orchid Fruit (Orchid fruit myristica). African.
J food Agr.Nutr.Dvlpmnt. 2:1-12
Arditya, D. W. 2010. Pengaruh Penggunaan
Bahan Pakan Konsentrat Sumber Protein Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan
Bobot Badan dan Konversi Pakan pada Domba Ekor Gemuk. Skripsi. Fakultas
PeternakanUniversitas Brawijaya. Malang.
Arora, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba
Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Holcomb, G., H. Kiesling, and G.
Lofgreen, 1984. Digestibility of Diets and Performance by Steers Feed Varying
Energy and Protein Level in Feedlot Receiving Program. Livestock Research Beefs
and Cattle Growers Shorts Course. New Mexico State University, Mexico
Kartadisastra, H.R., 1997. Penyediaan
dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius, Yogyakarta.
Koddang, A. Y. M. 2008. Pengaruh Tingkat
Pemberian Kosentrat Terhadap Daya Cerna Bahan Kering dan Protein Kasar Ransum
Pada Sapi Bali Jantan yang Mendapatkan Rumput Raja ( Pennisetum Parpurephoides
). ad- libitum, Jurnal Agroland 15 ( 4 ) :343- 348.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan
Makanan Ternak Ruminan. UI Press Jakarta
Prawirokusumo, S., 1994. Ilmu Gizi Komparatif.
BPFE Yogyakarta.
Putra, S. dan A. W. Puger. 1995.
Manipulasi Mikroba dalam Fermentasi Rumen Salah Satu Alternatif untuk
Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Zat-zat Makanan. Fapet, Unud, Denpasar.